Jayapura, 14/8 (Melanesi Post)-–
Selama tiga hari PM
Kepulauan Solomon Gordon Darcy Lilo berkunjung ke Indonesia. Ia sudah
berada di Bogor pada Senin(12/8) dan telah melakukan pertemuan bilateral
dengan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.
Lilo menegaskan kunjungannya ke Indonesia atas undangan dari
Pemerintah Indonesia untuk menerima informasi seputar kemajuan dan
perkembangan di
Papua serta kerja sama ekonomi.
Kepulauan Solomon, Fiji, Vanuatu, PNG dan FLNKS dari
Kanak Caledonia Baru termasuk negara-negara Ujung Tombak Melanesia yang mengundang WPNCL
dari
West Papua untuk hadir dalam
MSG Summit di Noumea, belum lama ini.
Berikut tabloidjubi.com mencoba mengangkat potensi sumber daya alam
mineral di PNG dan Provinsi Papua termasuk bagaiman mengangkat
nilai-nilai Melanesia menurut mantan PM Vanuatu Walter Lini. Melanesian
way mulai berkembang sejak 1970 an hingga awal 1980 an di mana Walter
Lini sebagai salah satu pencetusnya.
Papua New Guinea (PNG) dan Provinsi Papua satu daratan yang memiliki
tambang emas terbesar saat ini. Hanya saja potensi itu belum
dimanfaatkan secara maksimal bagi kemakmuran masyarakat di Melanesia.
Ujung tombak negara Melanesia, termasuk wilayah yang kaya akan sumber
daya alam termasuk potensi perikanan terbesar di dunia.
Bayangkan demam emas pertama kali melanda
PNG sejak 1878 di Port
Moresby, eksploitasi yang berlebihan oleh Inggris dan Australia hingga
sekarang ini. Sedangkan di Papua Barat secara intensip dilakukan oleh
PT Freeport Indonesia pada 1973. Bahkan pejabat berwenang di
PNG berani
mengatakan mereka menargetkan akan menjadi salah satu penghasil emas
terbesar di dunia.
Berdasarkan pengalaman di
PNG, saat demam emas melanda wilayah Port
Moresby dan Bulolo, orang mulai menyadari bahwa setidaknya
gunung-gunung di Papua Barat (Provinsi Papua dan Papua Barat) yang
berbatasan langsung dengan
PNG seperti OK Tedi Mining diduga terdapat
kandungan emas di P
egunungan Bintang, Papua Barat.
Papua New Guinea(PNG) termasuk negara Ujung Tombak Melanesia yang
memiliki potensi sumber daya mineral terbesar di antara sesama negara
Melanesia. Sumber mineral terbesar adalah tembaga dan emas yang
menyumbang sekitar 60 % eksport PNG sejak 1989 hingga saat ini. Potensi
ini belum termasuk sumber daya minyak dan LNG. Tambang terbesar jelas
terdapat di Bougainville dan OK Tedi Mining.
Bukan hanya wilayah itu saja yang diduga memiliki potensi tambang
dan mineral tetapi Sungai Frieda, demikian pula di dekat Madang
Province. Potensi gas alam dan minyak bumi juga ditemukan di
Teluk Papua.
Bagaimana dengan
wilayah Melanesia lainnya seperti Solomon Island,
Fiji, New Caledonia dan Vanuatu? Jelas agak berbeda jauh dengan PNG yang
memiliki dataran lebih luas ketimbang
negara-negara Melanesia tersebut.
Vanuatu yang baru merdeka pada 30 Juli 1980 termasuk salah satu
negara yang mendorong solidaritas sesama Ujung Tombak Melanesia dimotori
oleh mantan PM
Vanuatu Walter Lini. Mantan Perdana Menteri
Vanuatu
inilah yang mensponsori berdirinya Ujung Tombak Melanesia pada Maret
1988 di Port Villa.
Menurut Walter Lini nilai-nilai
Melanesia adalah merupakan
kepercayaan budaya dari rakyatnya. Bagi Walter Lini nilai-nilai
Melanesia merupakan kebalikan dari nilai-nilai kapitalis, komunalisme
versus individualisme. Berbagi(sharing) versus kepentingan pribadi, dan
kemanusiaan versus materialisme.
Komunalisme dalam
budaya Melanesia didasarkan pada kesadaran
masyarakat di mana individu tidak melihat dirinya atau kepentingan
pribadinya harus diutamakan daripada kepentingan bersama masyarakat.
Atau tidak ada kepentingan pribadi setiap suku tetapi yang ada hanya
kepentingan klen di dalam
kebudayaan Melanesia.
Menurut Walter Lini sharing memiliki hubungan erat dengan prinsip
memberi dan menerima dalam
kebudayaan Melanesia, “memberi berdasarkan
kemampuan seseorang, dan menerima berdasarkan kebutuhan seseorang.”
Kemanusiaan lanjut Walter Lini jelas menunjuk kepada “rasa
kasih”(affection) dan “tolong menolong”(mutual help). Dengan demikian
menurut Lini
Melanesian Way adalah komunalisme, sharing dan kemanusiaan.
Melanesian way juga berkembang dengan pesat awal 1970 an ketika
PNG
hendak merdeka dari penjajahan pemerintahan Australia, 16 September
1975. Saat itu muncul gerakan-gerakan radikal yang menentang
kolonialisme dan menuntut kemerdekaan
PNG. Idelogi kaum nasionalis
PNG
lebih banyak tercermin dalam istilah
Melanesian Way.
Walter Lini menyadari betapa pentingnya membangkitkan kembali
kebudayaan Melanesia, yang disebut sebagai
Melanesia Renaissance. Ini
berarti lanjut Lini harus menunjuk kepada kelahiran kembali identitas
dan tujuan kita, serta memelihara, dan tanpa mecegah hak yang diberikan
Tuhan kepada kita untuk membangun dengan cara kita dan sesuai dengan
nilai-nilai dan harapan-harapan kita.
(B.M.Kilungga)