Welcome to Visit Site Radar Walak Papua Network

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label PETAPA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PETAPA. Tampilkan semua postingan

Personil Komando Pasukan PETAPA (Penjaga Tanah Papua)

Written By MELANESIA POST on Senin, 18 November 2013 | 11/18/2013 05:56:00 AM

Personil Komando Pasukan  PETAPA
TEMPO Interaktif, Jayapura - Dewan Adat Papua menggelar upacara memperingati hari ‘kemerdekaan’ Papua yang jatuh pada hari ini, Rabu (1/12). Upacara khusus itu diselingi peletakan bunga ke makam Theys Eluay, tokoh kemerdekaan Papua.

Ribuan orang membanjiri makam Theys yang terletak di lapangan terbuka di Sentani, Kabupaten Jayapura. “Hari ini kita peringati hari kemerdekaan Papua, tidak ada upacara lain selain di sini. Kita berharap ada perhatian dunia internasional atas masalah Papua,” kata Forkorus Yaboisembut, Ketua Dewan Adat Papua, Rabu siang.

Upacara tersebut dijaga ketat ratusan personil pasukan Penjaga Tanah Papua (Petapa). Usai upacara, warga tetap bertahan hingga siang di lapangan makam. “Kita ingin semua orang Papua bersatu, jangan ada perbedaan lagi. Peringatan kali ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bahwa kita adalah bangsa yang bebas,” ujarnya.

Puluhan personil kepolisian dari Polres Kabupaten Jayapura berjaga di seberang lapangan. Sebuah water canon disiagakan untuk mencegah situasi buruk. “Polisi disiagakan mengantisipasi tindakan anarkis warga,” kata Kapolres Jayapura Ajun Komisaris Besar Mathius Fakhiri.

Sementara itu, usai upacara, ratusan orang berkumpul dan sempat meneriakan yel-yel ‘merdeka’. Mereka juga membicarakan soal kemerdekaan Papua.

Anggota Petapa Wajib Jaga Perdamaian di Papua

Anggota Petapa Wajib Jaga Perdamaian di Papua

Petapa saat melakukan Striking Force

 
Ketua Dewan Adat Papua, Forkorus Yoboisembut menghimbau setiap anggota PETAPA (Penjaga Tanah Papua) agar tetap komitmen menjaga perdamaian di Papua karena hingga kini kasus kekerasan, pelanggaran HAM dan penjarahan hutan masih saja terjadi di Papua.

“Tanggung jawab atas perdamaian di Papua bukan hanya dari TNI dan Polri saja, tapi juga setiap anggota PETAPA wajib memangku tanggung jawab tersebut,” ujarnya, Rabu (3/10) di Jayapura.

Dia mengatakan kasus pelanggaran HAM di Puncak Jaya semisal tewasnya  Pdt. Kindeman Gire 17 Maret lalu adalah salah satu tanggung jawab dari setiap anggota PETAPA untuk mengamankannya. Menurutnya, bila pelanggaran itu dilakukan aparat negara, kami hanya menyerahkannya kepada Negara karena PETAPA tidak mempunyai pengadilan tersendiri tapi bila Negara tidak mampu menyelesaikannya, maka kami akan mengajukannya ke Mahkamah Interasional.

Untuk mempertegas fungsi dan peran PETAPA, kata dia, pihaknya telah melakukan Striking Force bagi setiap anggota PETAPA pada tanggal  6 Oktober yang lalu. Dia mengaku kegiatan tersebut dilaksanakan agar setiap anggota PETAPA menyadari diri  untuk menjalankan tugas pokoknya di tanah Papua.

Menurutnya, komitmen bagi setiap anggota PETAPA di Papua tidak bertujuan untuk memihak siapa-siapa baik pemerintah maupun masyarakat sipil. Setiap orang masuk yang  anggota PETAPA, lanjut dia, bukan karena ada pilihan lain, tapi karena merasa terpanggil dan prihatin terhadap keberadaan manusia dan Sumber Daya Alam di Papua. “Walaupun mereka tidak digaji tapi mereka menjalankan tugasnya dengan hati nurani dan penuh kesetiaan,” imbuhnya.

PETAPA adalah lembaga bentukan Dewan Adat Papua. Perekrutan anggotanya dimulai dari Dewan Adat Suku. “Tahun 2010  anggotanya mengalami penambahan sebanyak 1000 personil,” ujar Forkorus. (Karolus)

Wamena Bleeds Again : Defender of the Land of Papua killed by Indonesian Police

Wamena Bleeds Again : Defender of the Land of Papua killed by Indonesian Police

Petapa members join hands
On October 4th, a member of Petapa (Penjaga Tanah Papua – Defenders of the Land of Papua) was shot dead by Indonesian police in the West Papuan highlands town of Wamena. With this act of extrajudicial murder, the Indonesian security forces have stepped up their campaign of repression against the movement for indigenous rights and self-determination in West Papua. They have also revived painful memories of the Bloody Wamena incidents that rocked Wamena ten years ago, when Indonesian police and army forces brutally attacked community posts flying the Morning Star flag, leaving activists dead, beaten and imprisoned, and communities traumatized and displaced.


The increasing momentum of popular mobilizations against Indonesian rule, witnessed in the recent rejection of Jakarta’s manipulative ‘Special Autonomy’ law, is being matched by new levels of violent repression by the Indonesian police and military.  On Oct. 4, DAP’s (Dewan Adat Papua – Papuan Customary Council) security wing Petapa came under severe attack , as four of its members were shot by police, killing coordinator Ismael Lokobal, age 34, and leaving another senior member in a coma.  The incident happened after local airport police seized uniforms and cash being sent to Wamena from the coastal capital Jayapura.  Petapa members attempted to negotiate the return of the seized goods but were denied by police.  Soon a crowd had gathered at the airport police station and confronted the police; Wamena’s police chief was struck in the face by a rock.  Police launched a violent pursuit of Petapa members, chasing them to their headquarters at the regional DAP compound nearby, where Lokobal was shot dead.

Sources on the ground have reported that in the aftermath of the incident, the situation in Wamena has become extremely tense, with the military patrolling the streets and enforcing a curfew.  Local human rights advocates have sought in vain to negotiate a resolution to the crisis with local government and security forces leaders, and community leaders managed to prevent a rumoured attack against police forces by members of the victims’ clan.  The tension persists, and DAP and Petapa’s status as targets for repression and surveillance by the state apparatus is more starkly confirmed.

Meanwhile, newly obtained graphic and disturbing video footage shows Indonesian state agents torturing suspected OPM (Organisasi Papua Merdeka – Free Papua Movement) supporters as part of their brutal scorched-earth counter-insurgency campaign.  There is an urgent need for solidarity and support as Papua-wide mobilizations continue to put pressure on the Indonesian occupation and its foreign backers – which include the US and Australian governments as well as foreign resource extraction companies such as Freeport McMoran and BP.  This urgency is reflected as well by the recent disastrous flooding in Wasior, which Papuan NGOs blame on rampant logging around the area, and which has left over a hundred people dead and thousands displaced.  In light of the ongoing tension and popular opposition to foreign rule, further mobilizations and incidents are expected in the weeks to come.

PASUKAN PETAPA Divisi KAMTIB

PASUKAN PETAPA Divisi KAMTIBpasukan petapa

JAYAPURA, 30/1 - PASUKAN PETAPA. Sejumlah anggota Penjaga Tanah Papua (Petapa) memberikan dukungan dan mengawal Forkorus Yoboisembut yang tengah menjalani persidangan perdana di Pengadilan Tinggi Negeri Jayapura, Papua, Senin (30/1). Forkorus Yoboisembut didakwa dalam kasus makar pada Kongres Rakyat Papua di Padang Bulan 19 Oktober 2011 lalu dengan mendeklarasikan sebuah Negara federal dan menjadikan Forkorus sebagai Presiden Negara Federal Papua Barat. FOTO ANTARA/Anang Budiono/Koz/12.

PETAPA: Bukan Milisi Juga Bukan Tentara

PETAPA: Bukan Milisi Juga Bukan Tentara

Peronil Petapa saat mengikuti upaya Apel di Kabupaten Jayapura beberapa waktu lalu. (Foto/JUBI/Musa Abubar)
Tidak ada senjata di tangan. Ruang lingkup kerja hanya  menjaga hak-hak masyarakat  adat  di  Tanah Papua.

JUBI — Di bawah guyuran gerimis hujan, Jumat (3/9) lalu, sedikitnya 500 orang tetap berdiri tegak mengikuti upacara yang digelar Dewan Adat Papua (DAP), di Lapangan Sepabola Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Cuaca saat itu memang tak bersahabat.

Diawal pelaksanaan upacara, awan biru berubah warna menjadi gelap dan tak lama kemudian hujan deras. Meski demikian, masyarakat dan pasukan berseragam biru itu dengan setia mengikuti jalannya upacara.
Puluhan warga berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang dari Arso, Genyem, Depapre, Tanah Merah, Base G dan Tanjung Ria di Jayapura. Mereka datang untuk menyaksikan upacara gelar personil Penjaga Tanah Papua (Petapa) bentukan DAP.

DAP menganggap sangat penting menjaga keamanan di Tanah Papua. Karena itu, Petapa dibentuk. “Papua sampai sekarang belum aman. Keamanan bagi rakyat belum terjamin. Begitupun pengamanan terhadap kekayaan alam Papua,” kata Ketua DAP, Forkorus Yoboisembut.

Ia menyebut konflik di Papua tidak hanya tindak kekerasan, penganiayaan dan penembakan terhadap warga sipil. Penebangan hutan, pengambilan emas dan kekayaan alam lainnya masih terus terjadi. “Termasuk pengabaian hak-hak dasar Orang Papua. Ruang menyampaikan pendapat dibungkam, bahkan selalu distigma sebagai separatis karena melawan negara.”
Dalam dinamika kehidupan sehari-hari selama ini, Forkorus melihat kecenderungan tidak saling hargai menghargai sesama. Salin tuding menuding dan menyalahkan satu sama lain justru semakin menginjak harkat dan martabat Orang Asli Papua. “Tak pernah ada niat untuk melakukan perbaikan, terkesan ada proses pembiaraan,” katanya. Hal ini secara tidak langsung memaksa DAP untuk terus mencari solusi. Salah satunya membentuk Petapa agar menjaga tanah dan negeri kaya raya ini.

“Petapa dibentuk untuk menjaga perdamaian di Papua. Rumus dari perdamaian itu adalah menghargai hak-hak orang lain. Jika tidak menghargai orang lain, maka sekecil dan sebesar apapun haknya adalah awal dari penderitaan. Intinya, harus menghargai dan menghormati hak-hak sesama manusia,” tandasnya.
Wacana tentang perdamaian, kata Forkorus, sudah lazim dibicarakan. Tapi, sulit diwujudkan. Karena itu, Petapa dibentuk untuk mewujudkan perdamaian bagi semua orang yang hidup di Tanah Papua.

Ia berargumen, menghargai dan menghormati orang lain berarti sudah menghargai dan menghormati orang lain. Menjaga diri merupakan langkah awal menjaga orang lain, termasuk hak-hak asasi, hak atas sumber daya alam dan hak politik. “Selama itu tidak ada, perdamaian tidak bisa tercipta,” ujar Forkorus.
Cara Orang Papua menghargai dan menghormati kerapkali dianggap hal biasa. Itu berarti belum ada perdamaian secara hakiki di atas tanah ini. Untuk itu, ia berharap lembaga pemerintahan, pengusaha maupun instansi terkait harus menghargai hak-hak Orang Asli Papua. “Hak politik Orang Papua juga harus dihargai,” tegasnya.

Petapa hadir di seluruh Papua. Setiap daerah dipimpin seorang koordinator wilayah. Anggota Petapa berada dibawah aturan adat. ”Secara adat dan tradisi Orang Papua, Petapa ada di kampung-kampung dibawah Ondoafi atau Kepala Suku. Aturan seperti itu berlaku sejak dulu, meski ada sedikit perubahan,” kata Forkorus berkilah.

Di Biak, misalnya, dibina oleh Mambri. Setelah mendapat pembinaan, ditugaskan dalam suku dan kampungnya. Tugasnya, menjaga rakyat di kampung. Juga menjaga tanah, hutan dan kekayaan alam. Selain itu, pasukan berbaju biru menjaga pemimpinnya.
Upacara tersebut rencananya akan dihadiri 100 orang perwakilan dari berbagai daerah. Tapi karena keterbatasan dana, Petapa di daerah seperti Sorong, Manokwari dan Biak melakukan upacara serupa di masing-masing daerah.

Menurut Forkorus, pembentukan Petapa dan dalam operasionalnya tidak mendapat sokongan dari pemerintah. “Semua karena inisiatif pribadi mereka. Biaya juga ditanggung sendiri,” jelasnya.
Saat upacara, Forkorus memaparkan tugas anggota Petapa. Yakni menghargai dan menghormati hak-hak orang lain. Hal ini merupakan amanat dari deklarasi pertama kali dalam sebuah Konferensi Aasyarakat Adat Papua di Sentani, tahun 2004. “Dulu memang belum ada nama. Tapi DAP dan sejumlah tokoh mengajukan beberapa nama. Kami sepakat Petapa cocok untuk digunakan sesuai dengan budaya orang Papua.”
Polisi Adat dan Penjaga Dusun Adat Papua (Pedupa) adalah dua nama diantaranya yang sempat diusulkan. Polisi Adat diusulkan DAP sambil masih mencari format nama yang pas. Nama Pedupa disepakati dan digunakan kala itu. “Selanjutnya, dalam rapat kerja DAP di Biak pada Tahun 2006, nama Pedupa diubah menjadi Petapa dan nama ini yang dipakai sampai saat ini,” jelas Forkorus Yoboisembut.

DAP berprinsip, dari dari pada mendatangkan orang lain untuk menjaga keamanan lebih baik berusaha menjaga diri sendiri. Ini dianggap solusi atas realita selama ini, sehingga anggota Petapa diwajibkan untuk dibina dengan baik. Pembinaan bukan diarahkan untuk melakukan hal-hal yang bertentangan norma-norma adat, misalnya kekerasan dan lain sebagainya, melainkan menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat. “Kalau sampai bikin gerakan tambahan, itu sudah mencoreng nama baik dan melanggar adat. Jadi, dihukum dan pecat saja dari keanggotaan Petapa,” tegas Forkorus.

Terianus Satto, Koordinator Petapa Wilayah Mamberamo Tami (Mamta), mengaku telah diberi kewenangan untuk mengkoordinir semua proses pengamanan dalam kerangka membangun proses demokrasi. “Tidak ada kekerasan. Pengamanan berlaku bagi semua pihak, termasuk amber yang ada di Papua,” katanya.
Pengamanan, imbuh Satto, tidak memihak siapapun. Ini satu proses panjang untuk menjaga tanah ini aman dan damai. “Ketua DAP sudah tegaskan bahwa tidak perlu ada penilaian berlebihan, tidak perlu curiga dengan terbentuknya Petapa. Sebagai anak adat Papua, Petapa tidak bisa keluar dari koridor DAP. Kita tetap patuh pada aturan,” tutur Terianus.

Ini berlaku bagi anggota Petapa di berbagai daerah di Tanah Papua. Koordinator Wilayah Petapa memiliki tugas yang sama. “Intinya, Petapa hanya mau menjaga daerah ini aman,” cetus Terianus.
Enos Sembay, Anggota Petapa, berjanji akan menjaga kekayaan di dusunnya. Menjaga masyarakat di daerah asal agar tetap hidup rukun dan damai. “Tanggungjawab moril bagi saya untuk memperjuangkan hak-hak dasar masyarakat yang selalu terabaikan. Juga menjaga dusun kami,” ucapnya.

Meski agak sulit diwujudkan dalam waktu cepat, karena berbagai ketimpangan berakar kuat dan masyarakat masih trauma, namun Enos yakin lambat laun hal itu akan teratasi. Dengan memberikan pemahaman yang baik, setiap insan akan menyadari pentingnya menciptakan damai diantara sesama ciptaan Tuhan.

Dalam menjaga keamanan, tegas Forkorus, Petapa membangun relasi dengan pihak keamanan: TNI dan Polri. Dengan kerja sama yang baik, sedapat mungkin meminimalisir tindak kekerasan dan konflik yang selama ini tak ada habisnya di Tanah Papua. (JUBI/Musa Abubar)

PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA

PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA

 
 
KRONOLOGIS PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA
OLEH APARAT KEPOLISIAN KP3 UDARA WAMENA
4 SEPTEMBER 2010

Kronolog: Dominikus Surabut (Sekretaris Dewan Adat Balim La Pago)

 
Nama Peristiwa: Polisi Menembak Penjaga Tanah Papua (PETAPA) Dewan Adat Balim
Hari/Tgl : Senin, 4 Oktober 2010
Jam : 08.00 WIT
Lokasi : KP3 Udara/ Bandar Udara Wamena
Pelaku : Polres Jayawijaya, Kesatuan Polisi Pengamanan Pelabuhan (KP3) Udara Wamena
Korban : Masyarakat Adat (PETAPA) Balim (1 orang meninggal Dunia, 2 orang luka-luka dan 4 orang di tahan Polres wamena)
Motif : Mencurigai kegiatan Separatis (ada bawa bendera Bintang Kejora dan Senjata Api). Dalam karton berisi Topi PETAPA


Penjaga Tanah Papua (Petapa) adalah salah satu badan kerja yang ada di Dewan Adat Papua yang mempunyai tugas sebagai Polisi Adat Papua menjaga, mengamankan dan mengayomi seluruh manusia, alam dan makluk ciptaan lain yang ada di Tanah Papua. PETAPA  mempunyai jaringan di semua Dewan Adat Wilayah, Dewan Adat Daerah, Dewan Adat Suku dan Dewan Adat Sub-Suku sampai Tingkat Klen.


Penjaga Tanah Papua ini dibentuk dalam rangka menjaga Tanah Papua sebagai mana yang sedang diberikan makan (menyusui kami), terhadap pihak-pihak tertentu dengan sengaja dan sadar sedang menghancurkan nilai dan tatanan Adat Papua serta menghancurkan ekosistem dan kandungan alam, tanpa mengabaikan dan menghargai hak-hak dasar masyarakat Papua atau tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat adat Papua.

Dengan dasar pedoman Dewan Adat Papua bahwa Masyarakat adat Papua adalah pemilik dan Pewaris Tanah Papua (adat adalah pemerintahan yang tertua di Tanah Papua tidak perlu didaftar atau direkomendasikan oleh siapapun, tapi hanya butuh pengakuan atas identitas, otoritas dan hak-hak dasar masyarakat adat Papua), maka PETAPA diperintahkan oleh Ketua Umum Dewan Adat Papua untuk segera dilakukan konsolidasi di tubuh Penjaga Tanah Papua (PETAPA) di seluruh 7 Wilayah Adat di Tanah Papua. Di beberapa daerah sudah dilakukan termasuk Wamena, Biak, Mamta dan yang lain sedang dalam tahap konsolidasi PETAPA.

Dalam rangka itu Dewan Adat Wilayah Balim Lapago, sudah melakukan konsolidasi struktur, atribut dan Administrasi. Tanggal 24 September 2010 Koordinator Umum Petapa memanggil koordinator Petapa Balim ke Jayapura ambil Topi. Setelah di terima tanggal 04 Oktober 2010, berangkat kembali ke Wamena. Jumlah Topi yang didapatkan dari Koordinator Umum adalah 400 buah diisi dalam 2 karton. Jam 08.00 Tiba di Wamena, Polisi KP3 udara Wamena menyita Topi tersebut dengan uang Rp. 40 Juta dan surat-surat dari DAP tanpa ada alasan yang jelas, kemudian juga Koordinator PETAPA Balim digiring ke Kantor KP3 Wamena. Dalam negosiasi dengan polisi KP3 sudah disampaikan bahwa dalam karton itu hanya Topi Petapa saja tidak ada yang lain-lain misalmnya Bendera Bintang Fajar atau senjata, namun Polisi dengan sikap represif menahan barang-barang tersebut.

Kondisi demikian, anggota Petapa Balim, tidak terima dan datang ke kantor KP3 udara Wamena, situasi mulai memanas, Polisi mengeluarkan tembakan mengarah ke masa tanpa ada tembakan peringatan. Petapa lari menyelamatkan diri ke kantor Dewan Adat Balim Lapago, sekitar 1 KM dari TKP. Dalam insiden tersebut polisi menembaki Koordinator Petapa Balim : Amos Wetipo dan Frans Lokobal. Amos Wetipo di paksakan naik di truk untuk ditahan di Polres tapi Beliau tidak mau turun dari truk akhirnya Polisi melepaskan tembakan mengena di kepala bersama dengan Frans Lokabal. Juga Polisi kejar PETAPA sampai di depan Kantor DAP Balim Lapago. Ismael Lokobal, ditembak depan Kantor DAP dari TKP sekitar 1 KM, tembakan langsung mengena di Jantung langsung Tewas meninggal dunia. Yang lain sedang di tahan di Polres Jayawijaya.

Situasi terakhir di Wamena sedang mencekam, juga pihak Polres Jayawijaya, Dandim Jayawijaya dan Bupati Jayawijaya sedang mengiring ke kriminalisasi. Tapi masyarakat adat tetap bertahan, sudah cukup kita terima korban terus tiap saat. Kami tidak mau hal seperti begini. Tiap hari begini terus lama kelamaan kita akan habis dari Tanah ini. Tindakan ini menuju pada slow motion Genoside.

Apel Siaga PETAPA
Nama Korban:
1. Nama : ISMAIL LOKOBAL (Meninggal Dunia, kena tembak di Jantung)
    Usia : 34 Tahun
    Jabatan : Anggota Penjaga Tanah Papua (Petapa) Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asowetipo  Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asolokobal
Ismail Lokobal

2. Nama : AMOS WETIPO (kena tembakan di Kepala)
    Usia : 42 Tahun
    Jabatan : Koordinator Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asolokobal Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo
Amos Wetipo


3. Nama : FRANS LOKOBAL (kena tembakan di pinggang)
    Usia : 36 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asolokobal Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo
Frans Lokobal
PETAPA sedang di Tahan Polres Jayawijaya:
1. Nama : LAORENS LOGO
    Usia : 38 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Wosilimo Distrik Kurulu Wamena
    Suku : Wosiala
Laorens Logo
 2. Nama : JOHANIS HESELO
    Usia : 41 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Wetipo Heselo Distrik Kurima
    Suku : Wetipo Heselo Kurima

3. Nama : ALEKS  WETAPO
    Usia : 35 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asowetipo Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo

4. Nama : OTO WETAPO
    Usia : 36 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat :  Asowetipo Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo

Polisi Menghalangi PETAPA Kawal Forkorus Cs

Polisi Menghalangi PETAPA Kawal Forkorus Cs

PETAPA Berbaris (Jubi/Musa)
JUBI---Pejaga Tanah Papua (PETAPA) mengaku kecewa terhadap pihak kepolisian daerah Papua yang menghalangi PETAPA masuk kawal Forkorus Cs ke pengadilan hingga mengikuti proses persidangan di Pengadilan Negeri Klas I A Jayapura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (8/2).
 
“Kami PETAPA sangat kecewa karena Kapolda Papua menghalangi kami tidak menjaga proses persidangan ini. Kami dilarang masuk ke halaman kantor pengadilan,” kata Ketua PETAPA, Elias A kepada tabloidjubi.com di Abepura, Kota Jayapura, Papua, Rabu (8/2).

Menurut Elias, Polisi seharusnya tak boleh menghalangi PETAPA. Polisi harus menghargai PETAPA, sebab PETAPA juga menghargai Polisi yang menjaga keamanan. “Polisi dan PETAPA itu sama-sama keamanan hanya ada perbedaan dalam melaksanakan tugas," katanya.

Menurut Elias, Polisi menjalankan tugas mengamankan dengan sejata. Tapi PETAPA hanyalah penajaga tanah Papua tanpa kekerasan. “Kami tak pernah buat kacau. Kita bisa lihat siapa yang buat kacau. Kongres Papua III lalu, siapa yang buat kacau,” katanya.

Elias mengatakan, Kapolda Papua mestinya memberikan ruang kepada PETAPA juga untuk mengamankan sidang. “Saya harap tidak terulang pada pegamanan sidang berikutnya. Kita jaga sama-sama dan saling menghargai,” katanya.

Dalam pantauan tabloidjubi.com di lapangan, anggota PETAPA berdiri jauh dari pintu gerbang masuk halaman Kantor Pengadilan Negeri Jayapura hingga usai sidang. Bahkan ada kesan, jika PETAPA yang menjaga Polisi. Sebab PETAPA berada di ring luar penjagaan Polisi. (Jubi/Voxpopa)

WPNLA - PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA

Written By MELANESIA POST on Senin, 11 November 2013 | 11/11/2013 08:27:00 PM

PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA

PETAPA
KRONOLOGIS PENEMBAKAN ANGGOTA PETAPA DI WAMENA
OLEH APARAT KEPOLISIAN KP3 UDARA WAMENA
4 SEPTEMBER 2010

Kronolog: Dominikus Surabut (Sekretaris Dewan Adat Balim La Pago)

Nama Peristiwa: Polisi Menembak Penjaga Tanah Papua (PETAPA) Dewan Adat Balim
Hari/Tgl : Senin, 4 Oktober 2010
Jam : 08.00 WIT
Lokasi : KP3 Udara/ Bandar Udara Wamena
Pelaku : Polres Jayawijaya, Kesatuan Polisi Pengamanan Pelabuhan (KP3) Udara Wamena
Korban : Masyarakat Adat (PETAPA) Balim (1 orang meninggal Dunia, 2 orang luka-luka dan 4 orang di tahan Polres wamena)
Motif : Mencurigai kegiatan Separatis (ada bawa bendera Bintang Kejora dan Senjata Api). Dalam karton berisi Topi PETAPA


Penjaga Tanah Papua (Petapa) adalah salah satu badan kerja yang ada di Dewan Adat Papua yang mempunyai tugas sebagai Polisi Adat Papua menjaga, mengamankan dan mengayomi seluruh manusia, alam dan makluk ciptaan lain yang ada di Tanah Papua. PETAPA  mempunyai jaringan di semua Dewan Adat Wilayah, Dewan Adat Daerah, Dewan Adat Suku dan Dewan Adat Sub-Suku sampai Tingkat Klen.


Penjaga Tanah Papua ini dibentuk dalam rangka menjaga Tanah Papua sebagai mana yang sedang diberikan makan (menyusui kami), terhadap pihak-pihak tertentu dengan sengaja dan sadar sedang menghancurkan nilai dan tatanan Adat Papua serta menghancurkan ekosistem dan kandungan alam, tanpa mengabaikan dan menghargai hak-hak dasar masyarakat Papua atau tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat adat Papua.

Dengan dasar pedoman Dewan Adat Papua bahwa Masyarakat adat Papua adalah pemilik dan Pewaris Tanah Papua (adat adalah pemerintahan yang tertua di Tanah Papua tidak perlu didaftar atau direkomendasikan oleh siapapun, tapi hanya butuh pengakuan atas identitas, otoritas dan hak-hak dasar masyarakat adat Papua), maka PETAPA diperintahkan oleh Ketua Umum Dewan Adat Papua untuk segera dilakukan konsolidasi di tubuh Penjaga Tanah Papua (PETAPA) di seluruh 7 Wilayah Adat di Tanah Papua. Di beberapa daerah sudah dilakukan termasuk Wamena, Biak, Mamta dan yang lain sedang dalam tahap konsolidasi PETAPA.

Dalam rangka itu Dewan Adat Wilayah Balim Lapago, sudah melakukan konsolidasi struktur, atribut dan Administrasi. Tanggal 24 September 2010 Koordinator Umum Petapa memanggil koordinator Petapa Balim ke Jayapura ambil Topi. Setelah di terima tanggal 04 Oktober 2010, berangkat kembali ke Wamena. Jumlah Topi yang didapatkan dari Koordinator Umum adalah 400 buah diisi dalam 2 karton. Jam 08.00 Tiba di Wamena, Polisi KP3 udara Wamena menyita Topi tersebut dengan uang Rp. 40 Juta dan surat-surat dari DAP tanpa ada alasan yang jelas, kemudian juga Koordinator PETAPA Balim digiring ke Kantor KP3 Wamena. Dalam negosiasi dengan polisi KP3 sudah disampaikan bahwa dalam karton itu hanya Topi Petapa saja tidak ada yang lain-lain misalmnya Bendera Bintang Fajar atau senjata, namun Polisi dengan sikap represif menahan barang-barang tersebut.

Kondisi demikian, anggota Petapa Balim, tidak terima dan datang ke kantor KP3 udara Wamena, situasi mulai memanas, Polisi mengeluarkan tembakan mengarah ke masa tanpa ada tembakan peringatan. Petapa lari menyelamatkan diri ke kantor Dewan Adat Balim Lapago, sekitar 1 KM dari TKP. Dalam insiden tersebut polisi menembaki Koordinator Petapa Balim : Amos Wetipo dan Frans Lokobal. Amos Wetipo di paksakan naik di truk untuk ditahan di Polres tapi Beliau tidak mau turun dari truk akhirnya Polisi melepaskan tembakan mengena di kepala bersama dengan Frans Lokabal. Juga Polisi kejar PETAPA sampai di depan Kantor DAP Balim Lapago. Ismael Lokobal, ditembak depan Kantor DAP dari TKP sekitar 1 KM, tembakan langsung mengena di Jantung langsung Tewas meninggal dunia. Yang lain sedang di tahan di Polres Jayawijaya.

Situasi terakhir di Wamena sedang mencekam, juga pihak Polres Jayawijaya, Dandim Jayawijaya dan Bupati Jayawijaya sedang mengiring ke kriminalisasi. Tapi masyarakat adat tetap bertahan, sudah cukup kita terima korban terus tiap saat. Kami tidak mau hal seperti begini. Tiap hari begini terus lama kelamaan kita akan habis dari Tanah ini. Tindakan ini menuju pada slow motion Genoside.

Apel Siaga PETAPA
Nama Korban:
1. Nama : ISMAIL LOKOBAL (Meninggal Dunia, kena tembak di Jantung)
    Usia : 34 Tahun
    Jabatan : Anggota Penjaga Tanah Papua (Petapa) Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asowetipo  Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asolokobal
Ismail Lokobal

2. Nama : AMOS WETIPO (kena tembakan di Kepala)
    Usia : 42 Tahun
    Jabatan : Koordinator Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asolokobal Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo
Amos Wetipo


3. Nama : FRANS LOKOBAL (kena tembakan di pinggang)
    Usia : 36 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asolokobal Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo
Frans Lokobal
PETAPA sedang di Tahan Polres Jayawijaya:
1. Nama : LAORENS LOGO
    Usia : 38 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Wosilimo Distrik Kurulu Wamena
    Suku : Wosiala
Laorens Logo
 2. Nama : JOHANIS HESELO
    Usia : 41 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Wetipo Heselo Distrik Kurima
    Suku : Wetipo Heselo Kurima

3. Nama : ALEKS  WETAPO
    Usia : 35 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat : Asowetipo Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo

4. Nama : OTO WETAPO
    Usia : 36 Tahun
    Jabatan : Anggota Petapa Dewan Adat Wilayah Balim
    Alamat :  Asowetipo Distrik Asolokobal Wamena
    Suku : Asowetipo